SELAMAT DATANG di Rumah Rakyat"PDP DKI Jakarta" Jl.Mampang Prapatan Raya No 2A, Mampang, Jakarta - Selatan. Merdeka..Merdeka..Pembaruan..Jaya..PDP..Menang..Bergerak Bersama Rakyat

Friday, October 31, 2008

Iklan di Televisi Kegagalan Mesin Politik

Partai politik disinyalir gagal dalam hal sosialisasi ke masyarakat. Banyak yang mengamati kegagalan partai politik disebabkan lemahnya struktur kepengurusan di tingkat bawah.

Tidak heran pengalihan opini publik untuk membuat mainset masyarakat adalah melalui iklan di televisi. Namun hal ini sangat diperkuat oleh maraknya iklan partai yang menampilkan figur sentralnya. Apakah ini petanda ambruknya mesin politik sebagai alat aspirasi masyarakat?
Tentu saja televisi yang mengiklan para tokoh mendapat keuntungan yang besar. Lebih-lebih mendekati kampanye pemilu 2009, para calon presiden meskipun masih ngmbang dalam penentuan capres, namun dalam iklan tersebut mengesankan bak seorang juru selamat dan terhindari dari dosa masa lalu.
Dramatisasi!Ya begitulah kesan yang dibuat figur politik dari partai tertentu. Padahal publik meragukan apakah iklan di televisi itu efektif meraup perolehan suara pada pemilu 2009? Meningkatnya dukungan suara tidak sepenuhnya disebabkan keberhasilan teknik beriklan, terlebih lagi untuk iklan politik. Preferensi pemirsa tidak secara linier berubah dengan adanya iklan-iklan yang menggunakan teknik atau kreativitas tinggi.
Fenomena keterisolasian iklan dari preferensi pemilih berlaku tidak hanya di negara yang ikatan primodial dan paternalismenya kuat, tetapi juga ditemui di negara- negara yang memiliki tradisi kuat berdemokrasi.
Figur politik yang diiklan mengoptimalkan ikatan emosi ini. Setiap figur politik memosisikan diri sebagi penyelamat, pahlawan. Permainan peran para kandidat merupakan bagian dari mengelola kesan untuk menguatkan persepsi dalam benak pemirsa. Para tokoh yang terpampang di layar televisi menampilkan sebagai ikon baru: aktor. Mereka dipoles untuk tampil impresif. Sebab, tugas mereka bukan untuk menyampaikan visi-misi atau agendanya, melainkan menampilkan kesan positif di depan pemirsa.
Ini menunjukan bahwa infrastruktur partai politik seperti pengurus di bawah tidak mampu menyampaikan kesan secara verbal terkait dengan pencitraan partai dan figurnya. Padahal peran struktur kepengurusan sangat strategis karena lebih dekat dengan massa pemilih. Lantas bagaimana peran sesungguhnya pengurus partai dalam hal propaganda?
Klaim-klaim positif yang disajikan melalui iklan bukannya meneguhkan pilihan rakyat, tetapi membalikkan persepsi yang dikehendaki kandidat. Citra yang dibangun di media pada akhirnya mampu ditangkap sebagai representasi fakta yang bertujuan untuk menguntungkan tokoh politik. Di sini berlaku penegasian; apa yang disajikan positif dipersepsi dan disimpulkan negatif.
Pengelolaan kesan ini menjadi bagian penting dari komunikasi politik. Visualisasi tubuh berikut artikulasi verbal oleh aktor dan narator merupakan fungsi "bahasa". Namun, "bahasa" di sini mengalami pengolahan citra. Penulis menemukan kosa kata yang dekat untuk mewakili gejala ini: "topeng"-meminjam dari Ben Anderson (1966). Adanya penopengan mereduksi, bahkan mendistorsi, pesan (bahasa) yang semestinya tampil realis, egaliter. Pengelolaan kesan (penopengan) menciptakan "jarak" agar identitas sebenarnya tidak tertampilkan utuh.
Topeng, serapat apa pun menutupi wajah, toh pada akhirnya tidak bisa mengabaikan berkembangnya kecerdasan rakyat. Saat rakyat telah kritis, topeng kehilangan maknanya. Kredibilitaslah yang akan menempati posisi terhormat sehingga secara meluas diterima rakyat parameter memimpin bangsa.
Dengan demikian, bila dihubungkan dengan keterbukaan informasi, kurang relevan jika rakyat masih dipersepsikan bodoh. Lambat atau cepat, keterbukaan informasi akan memengaruhi transformasi pola memilih. Rakyat kritis menghilangkan eksistensi iklan sebagai pendulang suara. Alih- alih dipercayai, iklan dipandang sebagai alat manipulasi; motif iklan tersingkap, yakni sebagai penopeng kebobrokan tokoh sentral politik.
Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) sejak awal berdiri tetap mengutamakan penguatan kepengurusan mulai dari nasional hingga kecamatan bahkan saat ini pun pembentukan pengurus di desa sedang dilakukan. Begitu pentingkah mesin politik? Ini yang dilupakan partai politik lain. Sehingga tidak heran di setiap tingkatan terutama pengurus di bawah kegiatan kepartaian tidak berjalan bahkan stagnan. Karena elite partai lebih senang menghamburkan uang untuk membayar iklan ketimbang membentuk pengurus di bawah.
Lantas bagaimana peran iklan apakah dengan kondisi tersebut iklan berarti proyek membelanjakan dana kampanye dengan hasil yang tidak efektif?
Iklan dibuat sebagai alat memengaruhi dukungan publik. Namun, karena realitas keterisolasian iklan dengan preferensi pemilih, tujuan ini tidak efektif untuk memperluas dukungan suara. Kecuali, memperteguh pendapat pemilih yang telah mengikatkan emosinya. Jadi, iklan bukan pada posisi untuk memengaruhi, melainkan menguatkan pendirian- pendirian pemilih yang memiliki ikatan tradisional tertentu.
Semoga dengan tulisan ini menyadari danmenumbuhkan semangat juang agar kader PDP lebih giat membesarkan partai melalui mesin politik yang sudah terbentuk. Kader PDP dan pemilih bisa saling kenal satu dengan lainnya tanpa melalui penopengan dan dramatisasi yang belum tentu terbukti keberhasilannya dalam menjaring pemilih.


No comments: